Connect with us

9 Fakta Menarik tentang Pemilu: Dari India hingga Korea Utara

Politik

9 Fakta Menarik tentang Pemilu: Dari India hingga Korea Utara

Indonesia sudah melakukan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada bulan April kemarin. Sudah mulai banyak poster dan atribut pemilu lainnya ditempel di tempat-tempat umum yang dicopot karena sudah selesai.
Pada hari – hari sebelumm Pemilu dilaksanakan media-media dalam negeri pun mulai dipenuhi dengan informasi terkait aktivitas kampanye dari capres-cawapres dan juga para calon legislatif. Negara-negara lain pun juga bersemangat. Berikut adalah fakta-fakta menarik mengenai pemilu di seluruh dunia yang telah dirangkum oleh Tim Dunia9.My.Id.

1. Pemilu di India dapat berjalan selama berminggu-minggu

Saking luas negaranya, pemilu di India tidak dapat dilaksanakan dalam satu hari. Pemilu di India membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Tidak heran, karena ada lebih dari 800 juta masyarakat India yang memiliki hak suara. Fakta tersebut menjadikan India sebagai negara demokrasi terbesar di dunia.
Untuk mengakomodir semua orang yang ingin menggunakan hak pilihnya, pemerintah harus melakukan pemilu dalam hitungan minggu. Pada pemilihan 543 anggota parlemen pada tahun 2014 lalu, voting dilaksanakan selama sembilan hari berbeda selama lima minggu.

2. Masyarakat Swedia dan Prancis menjadi pemilih secara otomatis

Jika di Indonesia seseorang harus mendaftarkan dirinya sebagai pemilih dalam setiap pemilu, berbeda rupanya dengan masyarakat Swedia dan Prancis. Masyarakat Prancis secara otomatis terdaftar sebagai pemilih ketika mereka berumur 18. Sementara di Swedia, mereka yang membayar pajak langsung mendapatkan hak pilihnya.

3. Voting dapat dilakukan secara online di Estonia

Sejak tahun 2005, masyarakat Estonia dapat memilih secara online jika tidak ingin pergi ke TPS. Meskipun pergi ke TPS masih lebih populer, tetapi pada tahun 2015, lebih dari 30 persen masyarakat Estonia melakukan voting secara online.
Hal tersebut dapat dilakukan karena setiap masyarakat Estonia memiliki kartu identitas yang dapat dipindai lengkap dengan pinnya. Kartu identitas ini dapat digunakan untuk mengisi pajak, membayar denda perpustakaan, sampai melakukan voting saat pemilu. Namun pada saat pemilu, identitas masyarakat Estonia akan terenkripsi, sehingga informasi tentang pemilih akan menjadi anonim.

4. Memilih wajib hukumnya di Australia

Setiap warga Australia yang berumur 18 tahun ke atas wajib secara hukum untuk memilih dalam pemilihan federal. Bagi mereka yang tidak memilih dalam pemilu akan dikenakan denda sebesar 20 Dolar Australia. Jika denda tidak juga dibayarkan, maka nilai denda akan meningkat menjadi 180 Dolar Australia dan dapat dianggap sebagai tindakan kriminal.

5. Pemilu kebanyakan dilakukan pada hari Minggu

Berbeda dengan Indonesia yang biasanya pemilu dilaksanakan pada hari kerja, kebanyakan negara di dunia melaksanakan pemilu pada hari Minggu. Meskipun negara berbahasa Inggris di dunia ada yang masuk ke dalam pengecualian, seperti AS pada hari Selasa, Kanada pada hari Senin, Inggris pada hari Kamis, serta Australia dan Selandia Baru pada hari Sabtu. Namun di luar negara-negara tersebut, biasanya pemilu dilaksanakan pada hari Minggu.

6. Astronot dapat memilih

Astronot yang sedang bertugas di stasiun luar angkasa internasional dapat mengikuti pemilu sejak tahun 1997. Untuk memilih, para astronot akan menerima surat suara dalam bentuk PDF yang harus dikembalikan lagi ke bumi.
Dokumen yang berbentuk sandi tersebut akan diterima oleh petugas untuk kemudian dicetak. Surat suara tersebut akan dikumpulkan bersama surat suara yang lain dan dihitung.

7. Cara Gambia mengakomodir pemilih yang illiterasi

Gambar terkait

Tidak semua orang bisa membaca dan menulis atau menggunakan kertas suara untuk melakukan voting. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Gambia cukup kreatif menawarkan solusi.
Para pemilih di Gambia melakukan voting dengan cara menjatuhkan kelereng ke dalam drum yang ditempeli foto kandidat yang ingin dipilih. Setiap drum dilengkapi dengan lonceng yang akan berbunyi ketika kelereng masuk ke dalam drum. Jika lonceng berbunyi lebih dari satu kali, maka petugas akan tahu bahwa pemilih telah melakukan kecurangan.

8. Ratu Inggris boleh memilih

Hasil gambar untuk ratu inggris memilih
Tidak ada hukum di Inggris yang melarang Ratu Elizabeth II untuk berpartisipasi dalam pemilu. Meskipun begitu, untuk menghindari ketidak objektifan, biasanya ratu tidak memilih.

9. Korea Utara juga punya pemilu meskipun bukan negara demokrasi

Hasil gambar untuk pemilu korut

Meskipun Korea Utara juga mengadakan pemilu, kegiatan ini jauh dari kata demokrasi. Pada tahun 2015, sekitar 99,7 persen pemilih menggunakan hak suaranya.
Namun, masyarakat Korea Utara tidak memiliki banyak kandidat untuk dipilih. Setiap kandidat yang muncul di surat suara sebenarnya sudah dipilih sebelumnya oleh partai yang memimpin Korea Utara.
Untuk memilih, masyarakat Korea Utara hanya harus menjatuhkan kertas berisi nama kandidat di sebuah kotak suara. Sebuah kotak lain juga tersedia untuk menyatakan penolakan terhadap kandidat-kandidat yang ada. Namun biasanya, kandidat yang terpilih memenangkan 100 persen dari total suara. Artinya, para pemilih biasanya tidak ingin memilih kandidat yang berbeda, atau jika mereka melakukannya, surat suara mereka biasanya tidak dihitung.
Sumber : kumparan.com

Baca Juga  Janji 9 Parpol Tak Calonkan Eks Koruptor di Pilkada 2020
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Politik

To Top