Connect with us

9 Konsol Games Yang Gagal Di Pasaran

Teknologi

9 Konsol Games Yang Gagal Di Pasaran

Jika  diminta untuk menyebutkan konsol game yang paling sukses di pasaran, mungkin kalian tak membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya bukan? Karena kesuksesan sebuah konsol game, seperti kita ketahui, sangat tergantung oleh beberapa faktor. Selain mengakomodasi teknologi terkini yang canggih, sebuah konsol hendaknya dirancang seefisien mungkin guna menekan biaya produksi dan tentu saja lebih mudah dipahami konsumen dan disertai game bagus yang menyertainya.
Dengan kata lain, sebuah konsol game dikatakan “gagal” apabila konsol tersebut tak berumur panjang, tak peduli seberapa canggih teknologi yang diusungnya. Berikut adalah 9 Konsol Game Yang Gagal Di Pasaran

1. Turbografx-16

Dikeluarkan di Jepang pada 1988, TurboGrafx-16 mendapat sambutan hangat dari pecinta game di Jepang, karena teknologi yang diusungnya jauh lebih tinggi daripada pesaingnya pada saat itu yaitu NES (Nintendo Entertainment System) dan Sega Master System. Jadi, secara keseluruhan, konsol ini mampu menghasilkan gambar dan suara yang lebih baik.
Sayangnya, konsol besutan NEC ini terpuruk di luar Jepang, penyebabnya adalah praktek anti-kompetisi Nintendo yang sekarang sudah menjadi illegal dimana tak memperbolehkan pengembang game yang membuat game untuk NES juga membuat game untuk konsol lain. Faktor lain adalah minimnya informasi konsol ini di luar Jepang, sehingga masyarakat tidak terlalu menyadari keberadaan konsol tersebut.
Sebagai akibatnya, pecinta game hanya dapat menemukan TurboGrafx-16 di kota-kota besar saja, dan sangat sulit untuk mengoleksi game-gamenya karena tak banyak game yang diproduksi untuk konsumen luar Jepang.
Konsol ini terjual lebih dari 10 juta unit dan masih terus berjaya di Jepang hingga sekitar 1998, namun dihentikan produksinya di dunia pada 1993.

2. Sega Saturn

Konsol keempat keluaran Sega yang meluncur di Amerika pada 1995, lebih awal beberapa minggu dari PlayStation. Dibanderol dengan harga US$ 399, Saturn diperkuat oleh delapan prosesor yang menjadikannya konsol tercanggih saat itu, bahkan clock speed gabungan dari multi prosesornya melebihi prosesor PlayStation.
Namun, adanya multi prosesor tersebut dirasa cukup menyulitkan pengembang game, karena beberapa bug yang terdapat di dalamnya membuat mereka kesulitan untuk membuat game yang memanfaatkan semua prosesor yang ada. Meskipun beberapa game berhasil mengadaptasi teknologi tersebut, banyak di antara pengembang game yang lebih memilih untuk menggunakan satu atau dua prosesor saja.
Sebagai hasilnya, Sega gagal mempertahankan usia Saturn dan harus menghentikan produksinya pada awal 1998. Tercatat 9,5 juta Saturn terjual di seluruh dunia.

3. Sega-CD

Konsol game berformat CD sudah tentu menggiurkan pecinta game yang pertama kali mengetahuinya pada tahun 1992. Lewat promosinya, Sega menyatakan bahwa perangkat tambahan untuk konsol Sega Mega Drive (16-bit) yang diberi nama Sega-CD ini akan memperkuat kemampuan Sega Mega Drive dengan menghadirkan teknologi audio video yang lebih canggih.
Sayangnya, harga Sega-CD yang dipatok US$299 tergolong tinggi untuk ukuran sebuah add-on. Selain itu, ternyata tak banyak peningkatan yang diberikan Sega-CD pada gameplay, karena prosesor Sega Mega Drive yang hanya 16-bit tak sanggup memberikan performa yang maksimal
Salah satu game Sega-CD yang dinilai berhasil adalah Sonic-CD, karena tata grafik dan suara dalam game tersebut betul-betul meningkat drastis jika dibandingkan dengan game-game era 16-bit yang lain.

4. Sega 32x

Lagi-lagi konsol add-on keluaran Sega yang menderita kegagalan. 32X dipasarkan pada 1994, dan sekali lagi, menjanjikan pengalaman memainkan game 32-bit via konsol 16-bit. Hal ini tentu membingungkan konsumen yang sudah membeli Sega-CD, karena tak ada hal baru yang ditawarkan.
32X juga tidak mendapat dukungan yang baik dari pihak Sega, pasalnya Sega telah mendengar kabar Sony yang hendak mengeluarkan PlayStation, sehingga mengalihkan sumber daya untuk membuat konsol tandingan yaitu Saturn. Jadi, 32X harus puas tutup usia dengan hanya 200 ribu konsol terjual.

5. 3DO

Ternyata, PS bukanlah konsol 32-bit berformat CD yang pertama. 3DO Interactive Multiplayer adalah konsol yang berhak menyandang predikat itu. Diprakarsai oleh Trip Hawkins dari Electronic Arts, 3DO tak hanya dipasarkan sebagai mesin game, tapi juga high-end platform yang dapat digunakan untuk memutar CD Audio dan Video-CD.
Hal yang membuat konsol besutan Panasonic 1993 ini gagal adalah harganya yang terlampau mahal, yaitu sekitar US$700, dimana harga tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga PS3. Jadi, tak heran kalau konsol ini hanya tinggal nama dan cuma terjual sebanyak 2 juta unit.

6. Virtual Boy

Siapa bilang Nintendo tak pernah mengalami kegagalan telak? Hal itu diderita raksasa industri game ini saat meluncurkan Virtual Boy pada tahun 1995, sebuah konsol semi-portable yang mengadopsi teknologi infra merah dan dapat menghasilkan sensasi 3 dimensi bai pengguanya.
Selain masalah pusing-pusing dan mata sakit yang disebabkan efek infra merah Virtual Boy, harganya yang terlampau mahal untuk ukuran sebuah handheld yaitu sekitar US$180, dan tidak tersedianya game untuk konsol itu membuat Virtual Boy harus meninggalkan dunia video game pada tahun 1996.

7. CD-I

Satu lagi konsol game berteknologi CD yang dianggap gagal dalam misinya menjadi sebuah konsol game. Diproduksi oleh Philips pada 1991, CD-I memiliki kemampuan untuk memutar CD-Audio, software edukasi, dan Video-CD dengan tambahan decoder.
Sebagai perusahaan yang lebih fokus pada produksi barang-barang elektronik, Philips bersikeras membuat game-game CD-I sendiri dengan melisensi karakter-karakter dari Nintendo. Sebagai hasilnya, game yang menyandang nama karakter Zelda dari Nintendo, yaitu Zelda: The Wand of Gannon pun masuk dalam kategori game terburuk sepanjang masa.
 CD-I yang hanya terjual sebanyak 570 unit sepanjang usianya bertahan cukup lama, hingga akhirnya Philips menghentikan produksinya pada 1998.

8. Atari Jaguar

Jaguar adalah konsol terakhir produksi Atari yang diklaim sebagai konsol 64-bit pertama. Namun pada kenyataannya, Jaguar memiliki 2 prosesor 32-bit, dan hanya graphic card-nya saja yang 64-bit. Penyebab utama kegagalan konsol ini adalah salah pengertian dari pengembang game yang terlanjur mengembangkan piranti lunak pembuat game untuk konsol 64-bit, bukan 2×32-bit.
Dirilis pada tahun 1993 seharga US$250, Atari sanggup bertahan hingga tiga tahun ke depan dengangame andalannya, Tempest 2000. Namun, banyaknya bug pada dua prosesor Jaguar, ditambah anehnya sistem kontroler pada konsol ini membuat developer dan konsumen malas bermain di konsol ini. Padahal, bila teknologi Jaguar berjalan optimal, konsol ini boleh jadi memiliki tenaga serupa Nintendo 64 di tahun 1996.

9. Apple Pippin

Mirip dengan langkah yg diambil Microsft dengan Xbox One, Apple coba menciptakan platform multimedia dengan Pippin. Dengan lisensi diberikan kepada pihak ketiga, Bandai menjadi satu-satunya perusahaan yg memproduksi konsol untuk perusahaan itu.
Dengan harga mencapai $600 dan buruknya pemasaran, Pippin berjuang untuk merebut perhatian para pengembang game.

Baca Juga  9 HP China Terbaik dengan Spesifikasi Dewa di 2019, iPhone Xs Lewat!

Sumber :

https://inmystery.blogspot.com/2010/04/10-konsol-game-paling-gagal-di-pasaran.html

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Teknologi

To Top